Photobucket

Rabu, 04 Mei 2011

^ Ketika Rosulullah Wafat ^





“Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau (Muhammad SAW) masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Saya merinding membaca firman Allah di atas. Sekaligus bersyukur dan bangga telah menjadi pengikut Nabi Muhammad.
saya menangis setelah membaca kisah mengharu biru dan mengaduk-aduk emosi saya. Emosi yang saya keluarkan itu, bukan emosi cengeng yang biasa keluar. Tapi emosi paling pol yang saya rasakan karena mengetahui betapa mulianya seorang Nabi yang selama ini kita selalu mengagungkan Beliau, Rasulullah SAW.
Saya tahu betapa mulianya akhlak Kekasih Allah itu, betapa “luar biasanya” Nabi Muhammad SAW di kalangan malaikat, sahabat bahkan semua makhluk ciptaan Allah SAW. Terutama saat beliau akan meninggal.
Buku Hikmah-hikmah Untuk Menuju Surga, ditulis Drs. Aep Saepulloh MH itulah yang membuat saya berderai air mata. Khususnya kisah Tangisan Abu Bakar dan Hari Wafatnya Rasulullah. Setelah membaca kisah tersebut, baru terbuka mata hati saya. Betapa mulia dan agungnya Beliau, bahkan malaikat Izrail pun mesti bertanya dulu, apakah ia boleh masuk rumah Rasul, tatkala Izrail diperintahkan Allah mencabut nyawa Rasulullah. Saya beruntung dan bersyukur tiada tara (sambil berlinang air mata) menjadi salah satu pengikut Rasulullah.


Allah SWT berfirman :
“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk engkau agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5:3)
Diriwayatkan bahwa surat Al-Maidah ayat 3 di atas, turun setelah waktu Ashar berselang, tepatnya pada hari Jumat di Padang Arafah saat musim haji penghabisan (haji wada). Ketika itu Rasulullah SAW sedang berada di atas onta Padang Arafah. Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah kurang begitu mengerti apa isyarat yang berhubungan dengan turunnya ayat tersebut. Lalu, Beliau bersandar pada ontanya, kemudian onta Beliau pun duduk secara perlahan-lahan.
Setelah itu turunlah Malaikat Jibril dan berkata :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahu mereka, hari ini adalah terakhir aku bertemu denganmu.”
Kemudian Malaikat Jibril pergi, Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus melanjutkan perjalanan ke Madinah. Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menceritakan apa yang telah dikabarkan Malaikat Jibril kepada dirinya. Mendengar hal ini, para sahabat pun gembira sambil berkata :
“Agama kita telah sempurna . Agama kita telah sempurna.”
Tetapi berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, mendengar keterangan Rasulullah itu, ia tidak kuasa menahan kesedihannya dan langsung pulang ke rumah. Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar menangis dari pagi hingga malam.
Alam Semesta Ikut Menangis
Kisah tentang Abu Bakar menangis itu kemudian sampai kepada para sahabat ynag lain. Lalu berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar, dan mereka berkata:
“Wahai Abu Bakar, 
apakah yang telah membuat engkau menangis seperti ini? Bukankah, seharusnya engkau gembira sebab agama kita telah sempurna.”
Mendengar pertanyaan dari para sahabat tersebut, Abu Bakar pun berkata :
“Wahai para sahabatku, kalian tidak tahu tentang musibah yang akan menimpa kita. Tidakkah engkau tahu, saat suatu perkara itu sempurna, akan terlihat kekurangannya. Karena itu dengan turunnya ayat tersebut suatu pertanda telah datang waktu yang sangat menyedihkan, yaitu sebentar lagi kita akan berpisah dengan Rasulullah SAW. Fatimah menjadi yatim dan para isteri Nabi menjadi janda.”
Setelah mereka mendengar penjelasan Abu Bakar, sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar. Mereka pun menangis dengan sekencang-kencangnya. Tangisan mereka itu kemudian didengar oleh sahabat-sahabat lainnya, lantas mereka pun memberitahu Rasullah tentang apa yang terjadi.
Berkatalah salah seorang dari sahabat :
“Ya, Rasulullah, kami baru pulang dari rumah Abu Bakar dan kami melihat banyak orang sedang menangis dengan suara kuat di rumah beliau.”
Ketika Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat itu, berubahlah air muka Beliau dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar. Setelah sampai di rumah Abu Bakar, Beliau melihat semua menangis dan Beliau pun bertanya :
“Wahai para sahabatku, kenapa kalian menangis?”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Ya, Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?”
Lalu Rasulullah berkata :
“Semua yang dikatakan Abu Bakar adalah benar dan sesungguhnya waktuku untuk meninggalkan kalian semua sudah dekat.”
Setelah Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah SAW, ia justru menangis sekuat tenaga, sampai ia jatuh pingsan. Sementara Ali bergetar kemudian terkapar tubuhnya. Para sahabat lain pun menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat yang di langit, cacing-cacing yang menggeliat di bumi dan semua binatang, baik yang di darat maupun di laut turut menangis.
Kemudian Rasulullah bersalaman dengan para sahabat satu persatu dan berwasiat kepada mereka.
Rasulullah diQishash
Jangka waktu Rasulullah SAW hidup setelah turunya ayat tersebut, ada yang mengatakan 81 hari, ada yang mengatakan Beliau hidup 50 hari, ada yang mengatakan hidup selama 35 hari dan ada pula yang mengatakan bahwa beliau hidup 21 hari.
Pada saat ajal Rasulullah SAW sudah dekat, Beliau menyuruh Bilal adzan untuk mengerjakan salat. Lalu berkumpullah para Muhajirin dan Anshar di Masjid Rasulullah. Kemudian Beliau menunaikan salat dua rakaat bersama semua yang hadir. Setelah selesai salat, Beliau bangkit lalu naik ke atas mimbar, seraya berkata :
“Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak manusia kepada jalan Allah dengan ijin-Nya. Saya ini adalah saudara kandung kalian, kasih sayangku pada kalian seperti seorang ayah pada anaknya. Oleh karena itu kalau ada siapapun di antara kalian yang mempunyai hak untuk menuntut, maka hendaklah ia berdiri dan membalasku, sebelum saya dituntut di hari kiamat.”
Rasulullah berkata demikian sebanyak 3 kali, kemudian bangkitlah seorang lelaki bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata :
“Demi ayahku dan ibuku ya, Rasulullah SAW, kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali soal ini, sudah tentu saya tidak mau mengemukakan hal ini.”
Lalu ‘Ukasyah berkata lagi :
“Sesungguhnya dalam Perang Badar saya turut bersamamu ya Rasulullah, pada saat itu saya mengikuti onta Anda dari belakang. Setelah dekat, saya pun turun menghampiri Anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha Anda. Tetapi Anda telah mengambil tongkat dan memukul onta Anda untuk berjalan cepat. Pada saat itu saya pun Anda pukul dan pukulan itu mengenai tulang rusuk saya.

Oleh karena itu saya ingin tahu, apakah Anda sengaja memukul saya atau hendak memukul onta tersebut.”
Rasulullah berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, saya sengaja memukul engkau.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, pergilah engka......u ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku.”
Saat keluar dari masjid menuju rumah Fatimah, ia meletakkan tangannya di atas kepala seraya berkata :
“Rasulullah SAW telah mempersiapkan dirinya untuk dibalas (diqishash).”
Ketika Bilal sampai di rumah Fatimah, Bilal memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata :
“Siapakah yang ada di pintu?”
Bilal menjawab :
“Saya Bilal, saya telah diperintah Rasulullah untuk mengambil tongkat Beliau.”
Kemudian Fatimah berkata :
“Wahai Bilal untuk apa ayahku minta tongkatnya.”
Berkata Bilal :
“Wahai Fatimah Rasulullah telah menyiapkan dirinya untuk diqishash.”
Fatimah berkata lagi :
“Wahai Bilal siapakah manusia yang sampai hati mengqishash Rasulullah SAW?”
Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Setelah Fatimah memberikan tongkat tersebut, Bilal pun membawa tongkat itu ke hadapan Rasulullah SAW.
Pembelaan Para Sahabat
Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal, beliau pun menyerahkan pada ‘Ukasyah. Melihat kejadian mengharukan ini, Abu Bakar dan Umar bin Khattab tampil ke hadapan sambil berkata :
“ ‘Ukasyah janganlah engkau qishash Baginda Nabi, tetapi engkau qishashlah kami berdua.”
Ketika Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar, dengan segera Beliau berkata :
“Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah engkau berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk engkau berdua.”
Kemudian Ali berdiri, lalu berkata :
“Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW, oleh karena itu, engkau pukullah aku dan janganlah engkau mengqishash Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Ali, duduklah engkau, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu Hasan dan Husein berdiri dan berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, bukankah engkau tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau engkau mengqishash kami sama dengan engkau mengqishash Rasululullah SAW.”
Mendengar kata-kata dari cucunya, Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai buah hatiku, duduklah engkau berdua.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau engkau hendak memukul.”
Kemudian ‘Ukasyah berkata :
“Ya, Rasulullah SAW, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.”
Lantas, Rasulullah pun membuka baju. Setelah Beliau membuka baju, menangislah semua yang hadir.
Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW, ia pun mencium Beliau dan berkata :
“Saya tebus Anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah SAW. Siapakah yang sanggup memukul Anda? Saya melakukan ini karena saya ingin menyentuh (memeluk) tubuh Anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan semoga Allah SWT menjaga saya dari neraka atas kehormatanmu.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Dengarlah engkau sekalian, sekiranya engkau hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”
Kemudia semua para sahabat bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para sahabat pun berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW dalam surga.”
Wasiat Rasulullah SAW
Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada
kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.
“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, 
Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”
“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :
“Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat. Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”
Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai merasakan sakit. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi para sahabat.
Dalam sebuah kitab diterangkan, bahwa Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin. Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”
Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”
Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti tadi. Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda berkata :
“Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.”
Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”
Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.
Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong. Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan. Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”
Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”
Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah. Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”
Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.
Izrail Menjemput Rasulullah
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :
“Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya,


‎`Izrail Menjemput Rasulullah`


Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :


“Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau melakukan dg cara yg pali......ng lembut sekali. Jika engkau pergi ke rumahnya, minta izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk, maka masuklah engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk, hendaklah engkau kembali padaku.”
Setelah Malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah SWT, Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah, ia pun memberi salam :
“Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?)
Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata :
“Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”
Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.”
Fatimah menjawab :
“Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?”
Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”
“Dia adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”
Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui, bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat, ia pun menangis sejadi-jadinya.Ketika Rasulullah mendengar tangisan Fatimah, Beliau pun berkata :
“Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”
Kemudian Rasulullah SAW pun menjemput Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Waalaikassaalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?”
Berkata malaikat Izrail :
“Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?”
Berkata Izrail :
“Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”
Tidak berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril, Beliau pun berkata :
“Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.”
Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”
Rasulullah bertanya lagi : “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.”
Berkata Jibril :
“Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”
Berkata Jibril :
“Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”
Berkata Rasulullah SAW:
“Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”
Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya. Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”
Jibril nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW,
Jibril nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”
Jibril berkata :
“Wahai kekasih Allah, ......siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”
Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :
“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata :
“Umatku, umatku.”
Kemudian Rasulullah bersabda :
“Malaikat Jibril telah berkata kepadaku: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untukmu, barang siapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut, maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.”


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Rabu, 27 April 2011

^Budak Hina tapi Mulia di sisi Allah^



   Pada suatu zaman ada saudagar kaya membeli seorang budak . Setelah di ijab qobul sang budak berkata pada tuannya yang baru . Dengan nada lemah , Lesu tapi matanya penuh pengharapan .
  
Budak :" Tuan , sekarang diri hamba sepenuhnya telah menjadi milik tuan ."
Majikan :" Betul , ada apa ?"
budak :"apa pun yang hendak dilakukan terhadap hamba adalah hak tuan dan hamba rela menerimanya . Tapi ada sedikit permintaan dan hamba sangat bersyukur jika tuan menerima permohonan hamba ini ."
majikan :" Apa permintaanmu ?"
budak :" Tidak banyak tuan . Pertama , bila nanti sudah tiba waktu sholat , hamba mohon istirahat untuk menunaikannya . sementara yang kedua , hamba mohon tempat khusus untuk melepas lelah ."
majikan :" hanya itu saja , baiklah aku terima permintaanmu ."
    
  Seketika itu pula sang budak di ajak majikannya berkeliling untuk memilih kamar yang cocok baginya . Tapi aneh , semua kamar yang ditunjukkan , tak satupun yang di pilih . Padahal kamar-kamar tersebut termasuk kamar-kamar yang sangat lengkap . Di sekelilingnya di hiasi ukir-ukiran yang indah , ranjangnya di hiasi kain-kain halus dan mahal , di atasnya terdapat lampu yang beraneka warna . Justru sang budak berkata ," Tuanku ,tak usah merepotkan diri dengan menunjukkan tempat yang indah , tapi cukuplah disini tempat hamba membuang lelah ." Sambil menunjukkan pada sebuah kamar tua yang di sekelilingnya terdapat tumpukan-tumpukan sampah , pintu dan jendelanya yang sudah rapuh dan atapnya pun sudah bocor , serta bagian dalamnya penuh dengan sarang laba-laba . Betapa kaget sang majikan mendengar ucapan budaknya seraya berkata ," Baiklah kalau ini memang pilihanmu ! terserah ."
   
   Malam itu juga , kamar mulai di bersihkan , dirapikan dan di tempatinya . Hari demi hari telah di lalui . Sang budak bekerja dengan tekun sampai menjadi orang yang sangat di sayangi majikannya . Kebetulan pada suatu malam , sang majikan keluar ingin melihat keadaan di sekitar pekarangan rumahnya . Ketika menengok ke arah kamar budaknya , ia terpana oleh seberkas cahaya yang memancar dari dalam bilik tersebut . Dengan pelan-pelan ia melangkah , setelah dekat ia langsung mengintip lewat celah-celah jendela . Betapa terkejutnya sang majikan tatkala melihat budaknya sedang sujud dan berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa . 

   Tiba-tiba dari pipi sang majikan bercucuran air mata . Ia tak kuasa melihat budaknya begitu khusyuk bersujud dan berdoa . Namun kesedihan itu terhenti ketika melihat pelita yang menerangi sang budak tiba-tiba naik di iringi alunan adzan shubuh . Pada malam berikutnya sang majikan mengajak istrinya untuk menyaksikan keajaiban . Setelah peristiwa itu terjadi lagi , mereka sadar bahwa orang yang selama ini menjadi budaknya bukanlah orang sembarangan . Dia adalah wali Allah . Setelah menunaikan sholat shubuh mereka menemui budaknya sembari berkata ," Wahai budakku yang di cintai Allah , sesungguhnya kami telah mengetahui siapa sebenarnya engkau ini , sejak kami melihat pekerjaanmu tiap malam , kami mengetahui engkau adalah kekasih Allah . Maka mulai hari ini , kami nyatakan engkau sebagai orang yang merdeka ."

   Dari cuplikan cerita di atas memberikan pesan bahwa kita jangan sekali-kali meremehkan orang lain Orang yang terhina dimata manusia tapi belum tentu di sisi Allah .


(oleh : Joko Rabsodi)


^Menanam Pohon Kurma di Surga^


Pada zaman Nabi saw . Pohon kurma sama seperti tanah 
Pada zaman agrikultural , modal pada masyarakat kapitalis , dan informasi pada masa kini .
Makin   banyak orang memiliki pohon kurma , makin kaya dia , 
makin tinggi statusnya di   tangah-tengah masyarakat .


   Di Madinah ada sebatang pohon kurma yang bersejarah . Sehubungan dengan kurma itu , beberapa ayat Al-Quran turun dari langit . Ia tumbuh pada halaman milik orang kaya , tetapi batangnya condong ke rumah orang miskin yang banyak anaknya . sesekali yang empunya memetik buah kurma itu . Sebagian berjatuhan ke halaman si fakir . Anak-anak yang lapar memungutnya dan memakannya .

   Ketika menyaksikan hal itu , yang empunya bergegas turun . Ia pungut butir-butir kurma yang jatuh . Ia rebut butir-butir yang masih di pegang anak-anak itu . Kalau anak-anak itu telah mulai memakannya  , ia masukkan jari-jarinya ke mulut mereka . Ia berusaha menyelamatkan setiap butir kurma yang ada .
   Orang miskin itu datang mengadukan peristiwa itu kepada Rosulullah saw. Nabi segera menemui pemilik pohon kurma ." Berikan padaku pohon kurma yang condong ke rumah fulan . Nanti Allah akan menggantinya dengan sebuah pohon di surga ." Bujuk Nabi .

  Pemilik kurma berkata ," Aku punya banyak pohon kurma . Tetapi , pohon yang ini mempunyai buah yang paling menakjubkanku ." Setelah itu ia pergi . Abu Dahdah , salah seorang sahabat Nabi , mendengar peristiwa itu ." Ya Rosulullah , sekiranya aku mengambil pohon kurma itu , apakah kau berikan juga bagiku pohon kurma di surga ?" ia bertanya . Rosul yang mulia mengangguk . 

  Abu Dahdah menemui pemilik kurma . Setelah berunding alot , pemilik kurma bersedia menyerahkan pohon itu apabila ditukar dengan empat puluh kurma lagi . Dengan gembira , Abu Dahdah menemui Nabi ," Ya Rosulullah , pohon kurma itu sekarang milikmu . Aku sudah membelinya ." Nabi kemudian menyerahkan pohon itu untuk orang miskin dan keluarganya . Tentu saja , keluarga miskin itu semua sangat gembira . Tetapi yang paling gembira adalah Abu Dahdah . Ia telah menanam pohon di surga .
   Hari itu turunlah surat Al-Lail . Allah memuji Abu Dahdah dan mengecam pemilik kurma yang rakus . Tentang Abu Dahdah Allah berffirman :

" Sebab itu , siapa yang memberi dan bertaqwa . Dan percaya akan berita gembira . Kami akan memudahkan kepadanya jalan kemudahan ." ( Al-Lail : 5-7 )

  Tentang pemilik kurma , Allah berfirman :

" Tetapi orang yang kikir dan merasa serba ada . Dan mendustakan berita gembira . Kami akan memudahkan kepadanya jalan kesulitan . Kekayaannya tiada berguna , ketika ia jatuh dalam bencana ." ( Al-Lail : 8-11 )

   Kemudian Allah memperingatkan ia dan orang-orang sepertinya dengan api neraka yang menyala . Allah menutup surat Al-Lail sekali lagi dengan memuji Abu Dahdah ," Akan menjauhi api neraka itu orang yang taqwa . Yang memberikan hartanya untuk membersihkan jiwa . Tidaklah seseorang memberikan nikmat yang ada padanya , kecuali karena ia mengharap ridho Tuhannya . Sungguh ia akan bahagia ."

   Surat Al-lail mungkin sering kita dengar dalam shalat-shalat kita termasuk tarawih . Kita sering lupa , bahwa surat itu juga bercerita tentang kita semua . Apakah kita termasuk pemilik kurma , yang dengan rakus menyelamatkan setiap butir hartanya . walaupun dengan merebut makanan orang-orang miskin dari mulut mereka ?
Ataukah kita , ingin seperti Abu Dahdah , yang setiap saat siap mengeluarkan hartanya untuk menanam pohon kurma di surga ??


( di angkat dari Tafsir Bil Ma'tsur , Jalaluddin Rahmat ) 

Senin, 25 April 2011

^Tiga Golongan Wanita^

   

     Seorang laki-laki bersumpah bahwa dirinya tidak akan menikah sebelum meminta saran kepada 100 manusia . Sebab dirinya mengalami patah hati yang tiada tara oleh seorang wanita . Diceritakan bahwa dia telah menemui 99 orang yang dimintai saran . Tinggal satu orang lagi untuk melengkapi jumlah yang ke 100 tersebut .

   Suatu hari, dia keluar dari rumahnya untuk bertanya kepada orang yang pertama kali bertemu dengannya adalah orang gila yang memakai kalung dari tulang . Mukanya sangat hitam . Selain itu, orang gila ini menunggangi kayu . Laki-laki itu memegang tombak yang dibawa oleh orang gila itu dan menyapa dengan salam .

    Laki-laki itu berkata ," Aku punya masalah ."
  
  Orang gila itu menjawab ," Silahkan engkau bertanya, namun engkau jangan bertanya sesuatu yang tidak penting bagimu ."

    Laki-laki berkata ," Aku patah hati oleh seorang wanita . Aku bersumpah tidak akan menikah sebelum meminta saran kepada seratus orang . Sekarang, engkau adalah orang yang keseratus yang aku mintai saran ."

   Orang gila berkata ," Ketahuilah olehmu wanita itu ada tiga jenis ."
Pertama , wanita yang bermanfaat bagimu. Kedua, wanita yang mudharat untukmu . Ketiga , wanita yang tidak bermanfaat dan tidak mudharat bagimu . Wanita yang bermanfaat bagimu adalah gadis tulen yang belum pernah disentuh oleh laki-laki . Wanita ini bermanfaat bagimu dan tidak akan memudharatkanmu . Jika melihat suaminya mendapatkan untung dia memuji kepada Allah SWT . dan, jika melihat engkau dalam keadaan rugi , dia akan berkata ," semua laki-laki tidak berbeda denganmu ."

    " Wanita mudharat untukmu adalah wanita yang mempunyai anak bukan darimu . dia memeras suaminya dan mengutamakan anaknya ."

    " Adapun wanita yang tidak bermanfaat dan tidak mudharat bagimu adalah wanita yang pernah menikah dengan orang lain . Jika melihat engkau dalam keadaan serba cukup, dia berkata ," Memang seperti ini yang harus dilakukan ." Jika melihat engkau dalam keadaan kekurangan , dia suka mengungkit-ungkit suaminya yang pertama ."
   
Laki-laki itu berkata , " Maukah engkau memberitahukan kepadaku apa yang menyebabkanmu berubah seperti yang aku lihat sekarang ?"

    Orang gila itu berkata ," Bukankah aku menyarankan kepadamu jangan bertanya sesuatu yang tidak penting bagimu ?"

    Laki-laki itu berkata ," Aku memohon dengan sangat agar engkau memberitahu penyebab engkau mengalami keadaan sepeti ini ."

    Orang gila itu berkata ," Aku dipaksa agar mau diangkat menjadi hakim disebuah pengadilan . Aku memilih apa yang engkau lihat sekarang daripada menjadi hakim ."



( di kisahkan dalam 'Uqala' Al Majnun oleh Kartika Nur fadi'ah)

Sabtu, 23 April 2011

^Kuburanlah yang Menjadi Tempat Malam Pertama Pernikahannya^

      Ini adalah kisah yang sangat menyedihkan, yang menunjukkan kepada kita, betapa remeh dan hinanya dunia, tidak ada kesenangan yang dapat dirasakan, tidak ada kebahagiaan yang dapat digapai dan tidak ada harta yang kekal. Semua itu pasti hilang, pada saat terpisahnya nyawa dari jasadnya, saat yang banyak dilupakan orang yang hidup di dunia ini, seolah-olah mereka tidak pernah hidup sesaatpun.

          Salah seorang yang memandikan jenazah menceritakan, “Sekelompok orang datang kepada kami di tempat pemandian jenazah.Ketika mereka meletakkan jenazah itu, suasana tampak diliputi keheningan, begitu heningnya, sehingga kami terpaku melihat suasana itu.Ternyata jenazah itu adalah seorang wanita muda yang dicabut nyawanya oleh Malaikat Maut dimalam kebahagiaannya.Malam itu,ia baru saja naik ke pelaminan.Ia dalam keadaan memakai perhiasannya yang paling indah dan palilng sempurna.Gelang yang indah melingkar di pergelangan kedua tangan dan kakinya, kalung melingkar di lehernya dan bedak kecantikan menghiasi wajahnya.”

Dus, keadaannya saat itu, ia berpakaian serba indah.Namun,,, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,, pada malam yang penuh kebahagiaan itu,Allah menghendaki kematiannya.


Segala sesuatu itu mengikuti takdirnya..
Dan kematian adalah pelajaran yang sangat berharga

Hendaklah seorang hamba selalu ingat, bahwasanya ia selalu membawa kematian, berjalan menuju kematian dan selalu menunggu datangnya kematian,pagi,siang ataupun sore hari.Alangkah indahnya, sebuah kalimat yang menggertarkan jiwa, yang diucapkan oleh Ali bin Abi Tholib,”Sesungguhnya negeri akhirat telah berjalan menghadap kearah kita, maka jadilah kalian generasi akhirat dan jangan menjadi generasi dunia.Sesungguhnya yang ada hari ini adalah beramal dan belum ada hisab(perhitungan), sedangkan kelak di akhirat, yang ada hanyalah hisab dan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk beramal..”

     Hendaknya manusia selalu bersiap-siap dan menyediakan bekal selalu memerbaiki keadaannya dan memperbarui taubatnya.Dan hendaknya manusia mengetahui, bahwa ia berhubungan dengan Robb Yang Maha Mulia,Maha Kuat, Maha Agung lagi Maha Lembut.Sesungguhnya kematian itu tidak pernah memberikan ijin kepada seorang pun untuk menolak, tidak pilih-pilih dan tidak bersikap ramah.Dan kematian itu tidak pernah memberikan peringatan dini yang diberitahukan kepada manusia.

Allah SWT , berfirman :

“Tidaklah jiwa itu mengetahui, di bumi mana ia akan mati.”(QS.Luqman : 34)

“(Kematian itu) tidak akan dating terlambat sedikitpun dan tidak akan datang lebih awal.”(QS.Saba’ : 30)


Wallahua'lam bishowab..

                                                                                                             
Look Me

.:|Assalamu'alaikum|:.

Selamat datang di faizah's Blog - Terima kasih telah berkunjung. Salam ukhuwah fillah ^_^

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].